Selasa, 20 Desember 2011

Ujung Kulon with the Loyal Rain..

Jakarta, 16 Desember 2011 Pukul 20.45 (Waktu BB saya) tiba di Plaza Semanggi  dengan gaya (sok) asik ala Backpacker  mencari 2 sosok manusia yang saya kenal. Setelah  berjumpa dengan 2 manusia tersebut, dan membeli sedikit perbekalan penting, akhirnya kami duduk manis menunggu si EO yang katanya bernama Mas (atau Jeung) Dwie atau temannya yang bernama Irman – belakangan saya tahu itu bukan temannya melainkan dirinya sendiri juga (entah apa tujuannya berkata seperti itu) -__-


Ini dia bis yang memiliki pengemudi yang tak kesampaian menjadi pembalap
Setelah proses pendataan ulang, akhirnya saya dan rombongan menuju bis untuk merasakan kebut – kebutan ala Pak Supir selama ± 7 Jam. Segala rintangan perjalanan dihajar sama pak supir, tikungan, tanjakan, turunan, gundukan, jalan berlobang teap ditempuh dengan kecepatan yang sama (tinggi) tanpa ada niatan untuk mengurangi kecepatan (malah tampaknya ditingkatkan), dan sialnya saya memilih posisi salah untuk ‘menikmati wahana’ itu. Serasa tak cukup membuat penumpang menderita dengan atraksinya, si pak supir juga memberikan kami ‘hiburan’ lain dengan menunggu bis kembali berjalan dari kemogokan di pagi dini hari. Argh!! Sekitar pukul 04.30 saya dibangunkan oleh teman saya yang menyatakan bahwa rombongan sudah tiba di Desa Sumur untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan laut sekitar pukul 08.00. Sembari menunggu jam 08.00 waktu diisi oleh rombongan dengan berbenah diri dari mulai sholat, cuci muka (atau bahkan mandi), sarapan, dan kembali tidur.

Ada cerita yang cukup mengiris hati dari Desa Sumur ini menurut saya. Berawal dari saat saya mau ke kamar mandi, saya melewati suatu ruangan yang di dalamnya ada seorang wanita berteriak – teriak tidak jelas. Pada awalnya saya mengira itu salah satu penghuni rumah tempat kami singgah yang meminta tolong kepada penghuni lainnya untuk diambilkan sesuatu di luar. Namun pada saat saya ke kamar mandi tersebut kedua kalinya dan melewati ruangan itu kembali, saya menyadari wanita tersebut masih tetap berteriak – teriak tidak jelas namun tidak ada yang menanggapi dari penghuni lainnya yang ada di luar ruangan, dan keanehan saya bertambah ketika salah seorang ibu penghuni rumah itu yang berada di samping saya berteriak ke wanita itu untuk menyuruhnya diam. Ketika saya sudah selesai dari kamar mandi untuk kedua kalinya, saya baru menyadari kalau wanita tersebut berada di dalam suatu ruangan yang pintu luarnya di blok oleh kayu besar dan gembok berlapis. Belakangan saya baru mengetahui ternyata memang Desa Sumur tersebut kabarnya merupakan tempat pengasingan orang – orang tidak waras dari Ibukota.

"dermaga" Desa Sumur
Pukul 08.30 kami kembali bersiap untuk melanjutkan perjalan laut kami menuju tempat kami menginap, Pulau Peucang… Yup, trip kami bisa dibilang dimulai dari sini, sama halnya dengan hujan yang setia menemani trip kami kali ini. Sewaktu kami menuju boat yang siap mengantar kami ke Peucang, hujan turun dengan santainya yang mengakibatkan kapal yang akan kami tumpangi tidak bisa menepi ke Pantai, dan akhirnya kami harus transit dari tepi pantai ke tengah laut dengan menggunakan kapal kecil, yak atraksi lainnya di Ujung Kulon.

  
Lagi – lagi saya mengambil posisi di belakang di kapal ini benar – benar kapal yang membuat saya menyesal (sekali lagi) karena itu merupakan posisi pertama yang didatangi hujan untuk membasahai badan. Perjalan selama ± 3 jam itu masih tetap ditemani oleh hujan yang setia yang membuat kapal kami harus menerpa setengah badai di tengah lautan, dan hampir menjadikan kapal kami seakan menjadi wadah yang siap menciduk lautan. Akhirnya setelah pasrah selama ± 3 jam menggigil kedinginan dan terombang – ambing kami tiba di Pulau tempat kami akan menginap, Pulau Peucang..

  
Setelah menuruni kapal, dan menyusuri dermaga, tulisan ”TAMAN NASIONAL UJUNG KULON PULAU PEUCANG” pun telah menanti untuk dijadikan bahan bernarsis ria bagi para pengunjungnya. Setelah berfoto ria sedikit kami ke basecamp kami selama di Peucang untuk berberes sedikit, berbagi kamar dan makan siang sembari bermain dengan hewan liar sekitar. Selesai melakukan itu semua, dan bernarsis sedikit lagi, kapal telah siap membawa kami untuk keliling Pulau, dan tujuan  pertama hari ini TANJUNG LAYAR dan yang kata teman saya adalah salah satu yang harus dikunjungi, otomatis saya menantikan untuk segera tiba di sana dengan ekspetasi yang sangat tinggi, yah SANGAT TINGGI.

  
Setelah kurang lebih 15 menit mengarungi lautan (dan ya seperti yang saya katakan di awal) sembari ditemani hujan yang labil –kadang turun kadang berhenti–  kami tiba di Tanjung Layar dan langsung dijemput kapal kecil kembali yang siap bolak – balik 5 kali untuk mengangkut rombongan kami untuk menepi ke pantai. Dan sembari kapal selesai menjemput semua rombongan, saya pun kembali mengisi mengisi waktu luang tersebut dengan bernarsis.. hohoho

  

Setelah semua rombongan telah menepi, kami melanjutkan perjalanan di Tanjung Layar, trekking menuju mercusuar. Melewati jalur yang sebenarnya seru jika tidak hujan, sambil mengabadikan bentuk – bentuk pohon yang bagus sebagai teman berfoto, saya berjalan dengan ekstra hati – hati yang saya bisa, tapi sayang keberuntungan tidak berpihak kepada saya, dan SLAAPP,, saya pun jatuh dengan tidak indahnya tepat di pikiran saya mengatakan, ”Please jangan sampai anda jatuh, Tesha!” dan akibat kejadian itu lagi – lagi tubuh saya harus menerima ’coreten – coretan’, tapi untunglah coretan itu tidak seberapa menyakitkan dan menghambat perjalanan saya yang masih panjang untuk menemukan …….


Padang Dinosaurus, Hidden Paradise after Hard Trekking

Setelah puas menikmati padang hijau yang luas dan menyejukkan mata, kami melanjutkan perjalanan ke Cidaon dengan sebelumnya kembali menyusuri jalur yang sama seperti awal pendakian untuk kembali menuju kapal dan siap membawa kami ke tempat yang katanya dapat berjuma dengan banteng dan merak liar di savana jika beruntung.. Tapi sayang, tampaknya keberuntungan tak menghampiri trip kami kali ini. Entah dikarenakan terlalu sore atau karena rombongan sebelum kami terlalu brutal menikmati keliaran binatang – binatang tersebut,selagi giliran kami, kami hanya cukup mendapat gigitan nyamuk saja tanpa melihat binatang – binatang tersebut. Tapi sedikit hiburan setelah kami tidak berpuas diri di Cidaon, selagi kami akan kembali ke kapal, ternyata matahari sudah bersiap beristirahat, tetapi karena hujan yang terlalu setia menemani kami sepanjang hari, menyebabkan matahari tak sepenuhnya memperlihatkan keindahannya untuk diabadikan. Setelah berfoto sedikit, akhirnya kami kembali ke kapal untuk kembali ke penginapan dan beristirahat setelah bersantap malam tentunya. 


Esok harinya, pukul 05. 18 ketika saya membuka mata dan mengumpulkan nyawa yang sedang berkeliaran ke antah berantah, saya memutuskan untuk menikmati udara pagi hari di tepi pantai dan berharap masih ada sisa – sisa matahari pagi yang mengintip siap menyinari dunia. Namun lagi – lagi dikarenakan hujan semalaman (dan seharian) mengakibatkan tak ada warna matahari menyinari langit pagi itu. Tapi tidak terlalu buruk, langit pagi itu dan udara pagi itu cukup untuk menyejukkan diri saya.



Ketika hari bertambah pagi, IT’S  A SNORKELING TIME… Berharap akan menemukan ikan ataupun terumbu karang, ternyata saya harus cukup puas dengan berenang bersama jutaan ikan yang tak akan kabur walaupun berenang di sekitar mereka.

Setelah berfoto – foto seadanya, kami berbenah diri dan barang untuk meninggalkan Pulau Peucang menuju Pulau Handeuleum untuk bermain cano. Setibanya di sana, selagi beberapa dari kami menikmati keliling muara sungai menggunakan cano, saya terbujuk oleh rayuan Mamento dan mak Ota untuk kembali membasahkan diri bersnorkeling ria sembari menunggu teman – teman selesai kanoing. Setelah akhirnya memutuskan untuk kembali membasahi diri, saya menyusul Mamento dan Mak Ota untuk berenang – renang menuju muara sungai. Namun, belum juga 5 menit saya di sana, tiba – tiba saya berkata : ”Eh, ini muara sungai ya?” yang mengakibatkan kami bertiga serentak langsung kembali kembali menuju ke kapal. Yak, itu semua dikarenakan seketika saya teringat kata – kata dari teman saya yang telah ke Ujung Kulon : ”Jangan berenang terlalu dekat dengan muara sungai, masih ada buaya liar”. YAK. Kami bertiga serentak langsung memikirkan makhluk itu ketika saya mengucapkan pertanyaan tersebut. Sepulangnya teman – teman yang selesai berkano ria,kami mendapat oleh – oleh, dan untuk pertama kalinya saya tau kalau ternyata Nipah itu adalah nama buah, dan ENAK…

Setelah team kembali lengkap di kapal, akhirnya tiba waktunya kami kembali menuju Desa Sumur yang diperkirakan menempuh waktu sekitar 1 jam. Sialnya bagi saya yang memakai baju basah sehabis berenang, dan si hujan menambah alasan saya semakin menggigil, jadilah seketika hasrat itu muncul di waktu yang tak lama setelah kapal bergerak dari muara sungai. SAYA KEBELEEEEEETTTT !!!! Berbagai cara saya lakukan untuk mengalihkan keinginan tersebut, berbagai obrolan sudah saya obrolkan, tetapi hasrat itu tak kunjung hilang atau setidaknya menghilang dari pikiran saya. Setelah cukup lama mencoba menghilangkan keinginan dan pikiran itu, saya melihat titik harapan, Pulau Umang telah terlihat, dan tandanya kami akan segera tiba di Desa Sumur kembali. Tapi apakah itu hanya fatamorgana saya saja atau memang begitu adanya (walaupun saya gatau apa penyebabnya), saya merasa cukup lama mengobral ngobrol setelah melihat Pulau Umang itu, tapi entah mengapa titik Pulau tersebut dari semenjak saya melihatnya sampai sekian lama tetap saja terlihat sama besar, tapi mungkin itu karena disebabkan ombak yang mungkin bermain – main dengan kami dengan kerasnya yang bisa saja menyebabkan kapal kami maju 2 meter, mundur 1 meter. Yak saya sudah mulai emosi dan jangan sampai ada yang menyentuh saya, itu saja pikiran saya…

AKHIRNYAAAA… Desa Sumur terlihat juga, tanpa menunggu lama, saya langsung menjadi peserta pertama yang transit ke kapal kecil untuk menepi ke tepi pantai. Setelah memenuhi keinginan itu, dan berganti baju, rombongan siap kembali menuju Jakarta dengan atraksi seperti awal perjalanan : Atraksi Supir gagal jadi Pembalap.

Dan inilah liburan paling menyiksa menurut saya. Ujung Kulon, you have a special part in my heart but not in a GOOD WAY!!!

Rabu, 05 Oktober 2011

The Best and Memorable Place to ESCAPE Called KILUAN BAY


Berawal di hari Jumat, 30 September 2011 sekitar pukul 20.00 WIB di depan toko donut di Statiun Gambir, berdirilah 3 orang (yang mengaku) pria dan seorang wanita beserta bongkahan barang masing – masing menunggu  peserta lain –yang tidak diketahui bagaimana wujudannya– yang (katanya) sudah beberapa di TKP.
Setelah lama menunggu, dan dikarenakan kesulitan menghubungi Saudara Febri dimulailah aksi seperti calo menawarkan tiket berteriak ”Kiluan, Kiluan, yang ke Kiluan” ke hampir setiap orang yang lewat sampai dengan menebak – menebak peserta yang (hampir) berujung dengan taruhan kepada seorang wanita berbaju ungu membawa koper (yang tidak pas sekali dengan tema keberangkatan ini –backpacker–) yang diperkirakan bernama Fenny. Akhirnya setelah cukup lama berteriak – teriak seperti calo, datanglah sesosok wanita yang mengaku bernama Mimi (yang menurut data adalah benar salah satu peserta). Disusul dengan seorang mas – mas yang menghampiri kami yang kemudian dikenal dengan nama Danang ☺ Tak selang beberapa lama akhirnya kami bertemu dengan saudara Febry yang tak lain adalah “orang sibuk” dalam trip ini,dan lanjut bertemu dengan 9 orang lainnya.
 
Akhirnya rombongan ini masuk ke Bis Damri menuju Bandar Lampung.  Setelah mencari – cari tempat duduk yang sudah dipesan untuk rombongan, saya siap mengambil posisi yang (sebisa mungkin) nyaman. Namun belum juga posisi nyaman didapat, terjadi keriuhan di bis yang dikarenakan kesalahan bis dan bla bla bla (saya gamau terlalu ambil pusing). Setelah keriuhan tersebut selesai, akhirnya mulailah bis meluncur (menuju Tanjung Karang, Bandar Lampung) dan pembagian snack oleh kernet bis yang cukup emosian dalam keriuhan yang berlangsung tersebut dan berakhir menjadi bingung – bingung malu karena dinyanyikan ”Selamat Ulang Tahun” oleh rombongan kami *dimulai oleh Pak Ramon*.  Setelah pembagian snack beres, judul selanjutnya TIDUUUURRR….
Tiket dan bis menuju Tanjung Karang, Bandar Lampung

 
Setelah beberapa jam perjalanan, bis tiba di Pelabuhan Merak untuk menyebrangi Selat Sunda selama ± 3 Jam dengan menggunakan KMP Manggala. Setibanya di Bakauheni, bis kembali melanjutkan perjalanan ke Tanjung Karang selama ± 2 jam. Setibanya di Tanjung Karang, sebelum melanjutkan perjalanan ± 2 jam lagi menuju TELUK KILUAN dengan travel yang sudah dipesan, kami membenahi diri sedikit dengan kegiatan kecil pagi hari ☺ Setelah itu berangkaaattt… Can’t wait for Kiluan Bay, babe..
 
Setelah jalan beberapa saat, kami menyempatkan dulu memuaskan keinginan si perut yang minta diisi di warung nasi pertama yang dijumpai. Setelah makan lanjut ke medan perang –jalanan medannya seperti abis perang– yang memaksa kami untuk terlelap sesaat daripada harus terbuai dengan guncangan – guncangan medan perang. Setelah melihat tanda – tanda kehidupan Teluk Kiluan 17 KM, semangat kami pun kembali penuh tak sabar menyambut hiburan di depan mata, namun sayang, niat kami harus sedikit tertunda dengan diselingi oleh kejadian tak terduga BAN BOCOR yang mau tak mau mengakibatkan kami untuk turun membiarkan pak supir mengganti ban bocor dengan ban cadangan yang ternyata lebih parah rusaknya sembari ditemani oleh panas dan debu tak ketinggalan adik – adik SD dan SMP yang minta digodain banget.. 
Oh My God, Ban Bocoorr…
Akhirnya setelah mendapat bantuan dari warga sekitar untuk memperbaiki ban bocor tersebut, dan melewati tulisan  ▼TELUK KILUAN 3 KM
 
yang sempat dipakai berfoto oleh kelompok mobil yang lain sembari menunggu kami, semangat semakin penuh, dan setibanya kami, jukung untuk membawa kami ke Pulau Keramat tempat kami menginap telah menanti.
 
Setelah menaiki jukung (perahu nelayan setempat dengan Panjang 9 m, lebar 38 cm dan tinggi 65 cm) selama 5 – 7 menit sampailah kami di Pulau Kramat yang menyuguhkan pantai dengan pasir putih dan air laut yang berwarna hijau dan biru yang LUAR BIASA CANTIK.
 
AMAZING, WONDERFUL, AWESOME
Setelah sampai di penginapan dilanjutkan dengan beres – beres barang sesaat, dan makan siang, kini saatnya MELAUT !!!! Menikmati betapa luar biasanya ciptaan Tuhan, membuat saya tak henti berucap ”keren banget pantainya” lalu kembali melakukan kegemaran saya SNORKELING (lebih tepatnya mungkin menyalurkan kenarsisan saya untuk foto2 underwater) namun agak sedikit mendapat kecewa dengan pemandangan bawah laut yang tak sepadan dengan pemandangan atas karena banyak karang-karang yang rusak (yang saya curigai dikarenakan bom ikan oleh oknum2 yang hanya mencari keuntungan pribadi tanpa mempedulikan keindahan lingkungan).
 
Sehabis snorkeling dan berfoto ala ABG (kata Pak Moncest), akhirnya kami berbenah diri untuk bersiap menyantap makan malam yang sebelumnya diisi dengan kegiatan : BERFOTO PUAS di Pantai belakang penginapan sembari memburu matahari tenggelam (kalo kata orang – orang sih hunting sunset).
 
 
Walaupun belum lelah berfoto, kami menyudahinya karena makan malam telah disiapkan Ibu tempat kami menginap.
 
Setelah makan malam, kegiatan bebas kami isi dengan berbincang – bincang dan kegiatan klasik : BERMAIN KARTU dengan penuh tawa yang kalo saya jadi orang lain pasti ingin nimpuk bawaannya saking keras dan berisiknya suara kami. Lelah bermain kartu dan kantuk yang telah datang, serta kewajiban bangun subuh untuk memulai kegiatan hari kedua membuat kami memutuskan untuk tidur.
Si Ratu Kartu
Esok harinya, setelah berbenah diri di subuh hari, kami siap bermain dengan Lumba – Lumba liar di tengah laut lepas disertai ombak yang ganas kembali dengan menaiki Jukung yang menurut saya sedikit mengerikan. Tapi rasa ngeri itu terbayar dengan aksi lumba – lumba yang berloncatan di samping dan depan jukung yang saya naiki (tidak semua dari kami menikmati keberuntungan itu ☺), namun sayang, kamera yang saya miliki tak mendukung untuk menangkap loncatan – loncatan si lumba – lumba yang secepat kedipan mata. Tapi tak apa karena lensa mata saya sudah merekam semuanya dengan sangat baik (ҧˆ⌣ˆ)ҧ (ҧˆ⌣ˆ)ҧ (ҧˆ⌣ˆ)ҧ
 
Thanks to Mas Phoe yang sudah bekerja keras mengabadaikan loncatan – loncatan si Lumba – Lumba
Setelah puas menyaksikan aksi si lumba – lumba loncat kesana kemari dengan sangat cepat namun indah, dikarenakan antara kegirangan dilihat oleh kami atau malah ketakutan, kami kembali ke Penginapan untuk bersantap pagi
 
dilanjutkan dengan ke Makam dari nenek moyang pengelola Pulau Kramat ini yang tidak boleh didatangi oleh orang yang sedang ”berhalangan” (baca : SAYA). Alhasil saya kembali ke Penginapan menghampiri Mba Putu Mayang Taurus, eh Mba Erna yang mengalami nasib sama. Tapi kekesalan itu tak berlangsung lama karena anak dari Penginapan kami bersedia mengantarkan kami ke Laguna (setelah melewati jalanan yang terjal penuh bukit – bukit curam) yang menakjubkan sekaligus mengerikan –bukit-bukit terjal yang langsung disambut laut dengan deburan ombak besar apabila jatuh
 
Perjuangan
 
 
Setelah puas menyalurkan cita–cita tak tersampaikan menjadi foto model di pinggir jurang, kami kembali turun ke peradaban pantai meninggalkan ancaman bahaya jatuh dan hancur oleh ombak untuk kembali bernarsis ria kembali di pantai yang begitu banyak karang – karang kecil dan ombak yang besar yang berhasil menyapu dan mengguling – gulingkan kami di session photo kami dan mengakibatkan luka di sana – sini (saya sendiri berhasil mengantungi 4 luka di tangan dan entah berapa di kaki).
 
Setelah puas berfoto – foto dan mengantungi banyak luka, kami kembali ke penginapan untuk mandi dan membereskan barang. Namun saudara Rahmat dan saudara Danang berhasil membujuk saya dan Fenny untuk snorkeling kembali di beberapa meter dari penginapan kami yang ternyata belum (dan jangan sampai) di bom ikan. Terbayar sudah kekecewaan saya di hari pertama dengan pemandangan bawah laut yang dihancurkan bom ikan. Selama ± 1 jam menggosongkan badan (akhirnya), kami kembali ke Penginapan untuk benar – benar mandi dan berberes barang.
 
Hingga akhirnya setelah semua peserta selesai mandi dan berberes, kami siap kembali meninggalkan penginapan untuk kembali ke Kiluan dengan Jukung yang sudah siap membawa kembalinamun tak ketinggalan kami foto keluarga secara lengkap bersama Pak Dirham pemilik penginapan.
 
Dengan rute terbalik dari jalur keberangkatan, kami mulai menyusuri kembali jalan – jalan yang telah kami lalui menuju Jakarta. Dimulai dengan naik jukung kembali yang ternyata turunnya tidak bisa sampai di tepi pantai banget sehingga mengakibatkan kami harus rela membasahi kaki kami dan memijakkan kaki di pasir yang berasa lembek – lembek menggelikan,
 
kami kembali menaiki mobil travel pesanan yang kali ini langsung ke Bakaheuni namun disempatkan ke warung nasi saat kami sarapan di hari I sewaktu menuju Kiluan, dan ke tempat oleh – oleh untuk membeli sekedar buah tangan (kalo kata mas Phoe “masa backpaker beli oleh – oleh?”).
Setibanya di pelabuhan Bakaheuni, KMP Nusa Agung baru saja menepi, dan membiarkan kami  menunggu beberapa saat dengan impian begitu tiba di kapal akan menempati ruang AC dengan kursi panjang yang bisa dijadikan tempat tidur sementara untuk meluruskan kaki yang lelah menekuk beberapa jam berdasarkan pengalaman ketika berangkat, namun PRAAANNGG…!!!!! Impian tersebut harus musnah begitu saja ketika kami mendapati kursi yang tersedia ada batas – batas yang tidak dimungkinkan untuk meluruskan kaki, ditambah adanya MUSIC OF OUR COUNTRY.. Yup„ DANGDUT…
 
Akhirnya saya harus RELA menerima kenyataan tidur diiringi musik yang………….. (silahkan sebut sendiri) Tapi terimakasih banyak kepada kondisi badan yang lelah dan mungkin karena memang sudah saatnya jam tidur, setelah berusaha mencari tempat yang sejuk dan tidak bermusik bersama Feny, namun tidak berhasil didapatkan, akhirnya saya relakan kuping saya menerima “MUSIC OF OUR COUNTRY” dan mengiringi tidur saya.
 
Pindah kelas yang percuma


Akhirnya saudara - saudara, setelah terlelapsaat di KMP NUSA AGUNG yang “WOW” itu tibalah rombongan kami kembali di pelabuhan MERAK. Setelah mengantar Mimi dan Nuri menemukan bis kembali ke Bandung, kami yang tersisa pun mencari bis yang mengantar kami ke Jakarta. Dan dengan tibanya kami di Jakarta, berakhirlah sudah MEMORABLE ESCAPE (especially for me after lost my Blackberry). 
KILUAN BAY, you have a special part in my heart
 (ҧˆ⌣ˆ)ҧ (ҧˆ⌣ˆ)ҧ (ҧˆ⌣ˆ)ҧ(ҧˆ⌣ˆ)ҧ (ҧˆ⌣ˆ)ҧ