Jakarta, 16 Desember 2011 Pukul 20.45 (Waktu BB saya) tiba di Plaza Semanggi dengan gaya (sok) asik ala Backpacker mencari 2 sosok manusia yang saya kenal. Setelah berjumpa dengan 2 manusia tersebut, dan membeli sedikit perbekalan penting, akhirnya kami duduk manis menunggu si EO yang katanya bernama Mas (atau Jeung) Dwie atau temannya yang bernama Irman – belakangan saya tahu itu bukan temannya melainkan dirinya sendiri juga (entah apa tujuannya berkata seperti itu) -__-
Setelah proses pendataan ulang, akhirnya saya dan rombongan menuju bis untuk merasakan kebut – kebutan ala Pak Supir selama ± 7 Jam. Segala rintangan perjalanan dihajar sama pak supir, tikungan, tanjakan, turunan, gundukan, jalan berlobang teap ditempuh dengan kecepatan yang sama (tinggi) tanpa ada niatan untuk mengurangi kecepatan (malah tampaknya ditingkatkan), dan sialnya saya memilih posisi salah untuk ‘menikmati wahana’ itu. Serasa tak cukup membuat penumpang menderita dengan atraksinya, si pak supir juga memberikan kami ‘hiburan’ lain dengan menunggu bis kembali berjalan dari kemogokan di pagi dini hari. Argh!! Sekitar pukul 04.30 saya dibangunkan oleh teman saya yang menyatakan bahwa rombongan sudah tiba di Desa Sumur untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan laut sekitar pukul 08.00. Sembari menunggu jam 08.00 waktu diisi oleh rombongan dengan berbenah diri dari mulai sholat, cuci muka (atau bahkan mandi), sarapan, dan kembali tidur.
Ada cerita yang cukup mengiris hati dari Desa Sumur ini menurut saya. Berawal dari saat saya mau ke kamar mandi, saya melewati suatu ruangan yang di dalamnya ada seorang wanita berteriak – teriak tidak jelas. Pada awalnya saya mengira itu salah satu penghuni rumah tempat kami singgah yang meminta tolong kepada penghuni lainnya untuk diambilkan sesuatu di luar. Namun pada saat saya ke kamar mandi tersebut kedua kalinya dan melewati ruangan itu kembali, saya menyadari wanita tersebut masih tetap berteriak – teriak tidak jelas namun tidak ada yang menanggapi dari penghuni lainnya yang ada di luar ruangan, dan keanehan saya bertambah ketika salah seorang ibu penghuni rumah itu yang berada di samping saya berteriak ke wanita itu untuk menyuruhnya diam. Ketika saya sudah selesai dari kamar mandi untuk kedua kalinya, saya baru menyadari kalau wanita tersebut berada di dalam suatu ruangan yang pintu luarnya di blok oleh kayu besar dan gembok berlapis. Belakangan saya baru mengetahui ternyata memang Desa Sumur tersebut kabarnya merupakan tempat pengasingan orang – orang tidak waras dari Ibukota.
| "dermaga" Desa Sumur |
Pukul 08.30 kami kembali bersiap untuk melanjutkan perjalan laut kami menuju tempat kami menginap, Pulau Peucang… Yup, trip kami bisa dibilang dimulai dari sini, sama halnya dengan hujan yang setia menemani trip kami kali ini. Sewaktu kami menuju boat yang siap mengantar kami ke Peucang, hujan turun dengan santainya yang mengakibatkan kapal yang akan kami tumpangi tidak bisa menepi ke Pantai, dan akhirnya kami harus transit dari tepi pantai ke tengah laut dengan menggunakan kapal kecil, yak atraksi lainnya di Ujung Kulon.
Lagi – lagi saya mengambil posisi di belakang di kapal ini benar – benar kapal yang membuat saya menyesal (sekali lagi) karena itu merupakan posisi pertama yang didatangi hujan untuk membasahai badan. Perjalan selama ± 3 jam itu masih tetap ditemani oleh hujan yang setia yang membuat kapal kami harus menerpa setengah badai di tengah lautan, dan hampir menjadikan kapal kami seakan menjadi wadah yang siap menciduk lautan. Akhirnya setelah pasrah selama ± 3 jam menggigil kedinginan dan terombang – ambing kami tiba di Pulau tempat kami akan menginap, Pulau Peucang..
Setelah menuruni kapal, dan menyusuri dermaga, tulisan ”TAMAN NASIONAL UJUNG KULON PULAU PEUCANG” pun telah menanti untuk dijadikan bahan bernarsis ria bagi para pengunjungnya. Setelah berfoto ria sedikit kami ke basecamp kami selama di Peucang untuk berberes sedikit, berbagi kamar dan makan siang sembari bermain dengan hewan liar sekitar. Selesai melakukan itu semua, dan bernarsis sedikit lagi, kapal telah siap membawa kami untuk keliling Pulau, dan tujuan pertama hari ini TANJUNG LAYAR dan yang kata teman saya adalah salah satu yang harus dikunjungi, otomatis saya menantikan untuk segera tiba di sana dengan ekspetasi yang sangat tinggi, yah SANGAT TINGGI.
Setelah kurang lebih 15 menit mengarungi lautan (dan ya seperti yang saya katakan di awal) sembari ditemani hujan yang labil –kadang turun kadang berhenti– kami tiba di Tanjung Layar dan langsung dijemput kapal kecil kembali yang siap bolak – balik 5 kali untuk mengangkut rombongan kami untuk menepi ke pantai. Dan sembari kapal selesai menjemput semua rombongan, saya pun kembali mengisi mengisi waktu luang tersebut dengan bernarsis.. hohoho
Setelah semua rombongan telah menepi, kami melanjutkan perjalanan di Tanjung Layar, trekking menuju mercusuar. Melewati jalur yang sebenarnya seru jika tidak hujan, sambil mengabadikan bentuk – bentuk pohon yang bagus sebagai teman berfoto, saya berjalan dengan ekstra hati – hati yang saya bisa, tapi sayang keberuntungan tidak berpihak kepada saya, dan SLAAPP,, saya pun jatuh dengan tidak indahnya tepat di pikiran saya mengatakan, ”Please jangan sampai anda jatuh, Tesha!” dan akibat kejadian itu lagi – lagi tubuh saya harus menerima ’coreten – coretan’, tapi untunglah coretan itu tidak seberapa menyakitkan dan menghambat perjalanan saya yang masih panjang untuk menemukan …….
| Padang Dinosaurus, Hidden Paradise after Hard Trekking |
Setelah puas menikmati padang hijau yang luas dan menyejukkan mata, kami melanjutkan perjalanan ke Cidaon dengan sebelumnya kembali menyusuri jalur yang sama seperti awal pendakian untuk kembali menuju kapal dan siap membawa kami ke tempat yang katanya dapat berjuma dengan banteng dan merak liar di savana jika beruntung.. Tapi sayang, tampaknya keberuntungan tak menghampiri trip kami kali ini. Entah dikarenakan terlalu sore atau karena rombongan sebelum kami terlalu brutal menikmati keliaran binatang – binatang tersebut,selagi giliran kami, kami hanya cukup mendapat gigitan nyamuk saja tanpa melihat binatang – binatang tersebut. Tapi sedikit hiburan setelah kami tidak berpuas diri di Cidaon, selagi kami akan kembali ke kapal, ternyata matahari sudah bersiap beristirahat, tetapi karena hujan yang terlalu setia menemani kami sepanjang hari, menyebabkan matahari tak sepenuhnya memperlihatkan keindahannya untuk diabadikan. Setelah berfoto sedikit, akhirnya kami kembali ke kapal untuk kembali ke penginapan dan beristirahat setelah bersantap malam tentunya.
Esok harinya, pukul 05. 18 ketika saya membuka mata dan mengumpulkan nyawa yang sedang berkeliaran ke antah berantah, saya memutuskan untuk menikmati udara pagi hari di tepi pantai dan berharap masih ada sisa – sisa matahari pagi yang mengintip siap menyinari dunia. Namun lagi – lagi dikarenakan hujan semalaman (dan seharian) mengakibatkan tak ada warna matahari menyinari langit pagi itu. Tapi tidak terlalu buruk, langit pagi itu dan udara pagi itu cukup untuk menyejukkan diri saya.
Ketika hari bertambah pagi, IT’S A SNORKELING TIME… Berharap akan menemukan ikan ataupun terumbu karang, ternyata saya harus cukup puas dengan berenang bersama jutaan ikan yang tak akan kabur walaupun berenang di sekitar mereka.
Setelah berfoto – foto seadanya, kami berbenah diri dan barang untuk meninggalkan Pulau Peucang menuju Pulau Handeuleum untuk bermain cano. Setibanya di sana, selagi beberapa dari kami menikmati keliling muara sungai menggunakan cano, saya terbujuk oleh rayuan Mamento dan mak Ota untuk kembali membasahkan diri bersnorkeling ria sembari menunggu teman – teman selesai kanoing. Setelah akhirnya memutuskan untuk kembali membasahi diri, saya menyusul Mamento dan Mak Ota untuk berenang – renang menuju muara sungai. Namun, belum juga 5 menit saya di sana, tiba – tiba saya berkata : ”Eh, ini muara sungai ya?” yang mengakibatkan kami bertiga serentak langsung kembali kembali menuju ke kapal. Yak, itu semua dikarenakan seketika saya teringat kata – kata dari teman saya yang telah ke Ujung Kulon : ”Jangan berenang terlalu dekat dengan muara sungai, masih ada buaya liar”. YAK. Kami bertiga serentak langsung memikirkan makhluk itu ketika saya mengucapkan pertanyaan tersebut. Sepulangnya teman – teman yang selesai berkano ria,kami mendapat oleh – oleh, dan untuk pertama kalinya saya tau kalau ternyata Nipah itu adalah nama buah, dan ENAK…
Setelah team kembali lengkap di kapal, akhirnya tiba waktunya kami kembali menuju Desa Sumur yang diperkirakan menempuh waktu sekitar 1 jam. Sialnya bagi saya yang memakai baju basah sehabis berenang, dan si hujan menambah alasan saya semakin menggigil, jadilah seketika hasrat itu muncul di waktu yang tak lama setelah kapal bergerak dari muara sungai. SAYA KEBELEEEEEETTTT !!!! Berbagai cara saya lakukan untuk mengalihkan keinginan tersebut, berbagai obrolan sudah saya obrolkan, tetapi hasrat itu tak kunjung hilang atau setidaknya menghilang dari pikiran saya. Setelah cukup lama mencoba menghilangkan keinginan dan pikiran itu, saya melihat titik harapan, Pulau Umang telah terlihat, dan tandanya kami akan segera tiba di Desa Sumur kembali. Tapi apakah itu hanya fatamorgana saya saja atau memang begitu adanya (walaupun saya gatau apa penyebabnya), saya merasa cukup lama mengobral ngobrol setelah melihat Pulau Umang itu, tapi entah mengapa titik Pulau tersebut dari semenjak saya melihatnya sampai sekian lama tetap saja terlihat sama besar, tapi mungkin itu karena disebabkan ombak yang mungkin bermain – main dengan kami dengan kerasnya yang bisa saja menyebabkan kapal kami maju 2 meter, mundur 1 meter. Yak saya sudah mulai emosi dan jangan sampai ada yang menyentuh saya, itu saja pikiran saya…
AKHIRNYAAAA… Desa Sumur terlihat juga, tanpa menunggu lama, saya langsung menjadi peserta pertama yang transit ke kapal kecil untuk menepi ke tepi pantai. Setelah memenuhi keinginan itu, dan berganti baju, rombongan siap kembali menuju Jakarta dengan atraksi seperti awal perjalanan : Atraksi Supir gagal jadi Pembalap.
Dan inilah liburan paling menyiksa menurut saya. Ujung Kulon, you have a special part in my heart but not in a GOOD WAY!!!